Apa itu WIL?

Inovasi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

  • Pendekatan lintas- dan trans-disiplin yang dikembangkan oleh dua disiplin utama, yakni agrometeorologi dan antropologi (lintas-disiplin), serta antara ilmuwan dan komunitas petani (trans-disiplin).

  • Program pembelajaran agrometeorologi yang dikembangkan oleh pakar agrometerolog dengan Tujuh Jasa Layanan Iklim bagi petani di Indonesia dapat diejawantahkan dalam wujud sinergi antara kegiatan penelitian kolaboratif (collaborative research) dan kegiatan aplikasi ilmu pengetahuan dalam wujud pendampingan masyarakat oleh pakar dan mahasiswa antropologi dari Universitas Indonesia.

  • Berbeda dari program-program introduksi “teknologi semata” atau “pelatihan” dalam periode waktu tertentu yang lazim dilakukan oleh pemerintah, WIL merupakan suatu program komitmen edukasi berkelanjutan bagi komunitas pengguna (petani) dengan peranan utama petani sebagai subjek yang aktif melakukan kegiatan riset dan analisis sebagai sumber pengambilan keputusan oleh mereka sendiri.

  • Hasil pembelajaran selama ini terwujud dalam kemampuan melakukan antisipasi dan adaptasi pada konsekuensi perubahan iklim yang semakin tidak dapat diduga, tidak menentu, dan sulit diprediksi oleh petani sendiri oleh meningkatnya variabilitias iklim.

  • Kemampuan melakukan hal itu merupakan suatu “modal dasar” utama bagi petani untuk menghindari risiko berkurangnya produksi atau gagalnya produksi tanaman yang dibudidayakannya. Hal itu amat signifikan bagi kelangsungan kehidupan petani melalui kemampuan mereka untuk mempertangguh produksi, meningkatnya “resiliensi ekosistem”, dan berkurangnya “kerentanan (vulnerability)” sekalipun keterlindanan beragam faktor yang kompleks tetap memengaruhi produktivitas dan ketangguhan ekosistem lahan.

  • Lebih lanjut, hal itu berdampak positif bagi kondisi makro produksi komoditas tanaman, terutama “beras” yang menjadi bahan pangan pokok masyarakat Indonesia. Keberlanjutan produksi pangan amat tergantung pada kemampuan produksi dan produktivitas dari komoditas yang dihasilkan para petani Indonesia.

  • Semenjak dirintisnya program itu pada tahun 2008 hingga awal tahun 2018, program WIL mampu diupayakan keberlanjutannya oleh pakar agrometeorologi, serta dosen dan mahasiswa antropologi FISIP-UI dengan dukungan dana dari berbagai pihak.

Arena Pembelajaran Agrometeorologi Petani

Warung Ilmiah Lapangan atau Science Field Shops adalah arena pembelajaran “in situ”,  yakni pembelajaran agrometeorologi oleh petani di lahannya masing-masing. Pembelajaran ini melibatkan proses saling belajar antarpetani, antara petani dan ilmuwan dan/atau antar petani dengan penyuluh pertanian/pemandu. WIL menawarkan satu pendekatan penyuluhan pertanian baru untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat dipraktikkan oleh petani dalam kegiatan usaha tani sehari-hari. WIL mengacu pada paradigma ‘Farmers’ First’ yang  menempatkan petani sebagai yang utama dan pertama dalam pengembangan kemampuan antsipasi perubahan iklim dan bukan pembelajaran instuksional satu arah.

Dalam WIL, petani adalah pembelajar yang aktif dan melakukan pengamatan dan pencatatan harian data curah hujan dan agroekosistem, mendokumentasikan serta menganalisa dan mendiskusikan hasil temuan itu bersama-sama. Peran ilmuwan dan/atau pemandu adalah menyajikan jasa-jasa layanan berupa pengetahuan baru tentang ragam aspek agrometeorologi yang dapat digunakan oleh petani. Ilmuwan juga mempelajari cara untuk dapat mengoperasionalkan produk-produk ilmu pengetahuan serta mencari cara yang tepat untuk merajut pengetahuan tradisional/lokal dengan pengetahuan ilmiah.

Upaya Penyebarluasan dan Kerjasama dengan Pemerintah

Upaya untuk melibatkan pemerintah Indonesia sebagai pihak yang berkepentingan tidak secara mudah dapat diperoleh tanpa adanya “nomenklatur” pendidikan bagi petani tersebut dalam rencana pembangunan jangka menengah dan anggaran belanja tahunan. Pada saat berakhirnya dukungan dana dari Indonesian Climate Change Trust Fund BAPPENAS pada awal bulan Maret 2018 (periode Maret 2016—2018), hal itu tengah dirintis oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Indramayu dan Lombok Timur. Program inovasi WIL itu juga telah menghasilkan sejumlah “Petani Pemandu” dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Dinas Pertanian yang siap untuk mendampingi warga komunitas petani di wilayahnya dan wilayah lain. Kemampuan mengorganisasi diri dalam melaksanakan program WIL juga telah dimantabkan.

Merupakan suatu harapan dan itikad ilmuwan dan petani “pengukur curah hujan” agar kemampuan itu dapat diwujudkan secara kolektif oleh warga komunitas petani dengan dukungan pemerintah setempat. Tanpa kolektivitas, upaya yang dimiliki individu-individu petani tidak dapat berdampak positif bagi kondisi makro produktivitas dan ketangguhan produksi pertanian. Satu hal yang belum tertangani adalah hasil inovasi yang secara “nyata dan faktual” dapat diamati, dikenali, dan secara mudah dipahami dan dimaknai berdasarkan pengetahuan kognitif dan cara belajar petani. Hal itu akan dicapai melalui pengolahan data dan kisah-kisah keberhasilan petani pengukur curah hujan secara lebih sistematis dan terstandarisasi sebagai media transmisi pengetahuan. Penyebarluasan program WIL juga akan dilaksanakan di berbagai wilayah di dalam dan luar kedua kabupaten dengan melibatkan petani pemandu itu sendiri. Keterlibatan pemerintah daerah dan ilmuwan setempat juga akan diupayakan sejak awal merintis program WIL di wilayahnya.