Penelitian Petani

Pengukuran, Pencatatan, dan Diskusi Data Curah Hujan

Mengukur curah hujan setiap hari di lahan sawah/ kebun adalah kegiatan pertama dan utama yang harus dilakukan setiap petani pengamat curah hujan, setelah ia setuju untuk bergabung dengan klub/ kelompok/ asosiasi pengukur curah hujan. Kegiatan ini adalah ciri utama pembelajaran agrometeorologi dalam Warung Ilmiah Lapangan. Karena itu, berangsur-angsur “pengamat curah hujan” sudah menjadi identitas baru bagi para petani yang melakukannya.

Prof. Kees Stigter, inisiator kegiatan ini berpendapat bahwa dibandingkan dengan komponen lainnya, curah hujan adalah parameter yang paling bervariasi baik dalam dimensi waktu maupun dimensi ruang. Dengan demikian, setiap petani harus memahami implikasi curah hujan di lahan mereka dan pertumbuhan tanaman yang dapat bervariasi dari satu lahan ke lahan lain dan dari waktu ke waktu lainnya.

Para petani mengakui, berdasarkan data curah hujan yang mereka amati setiap hari, mereka dapat memahami betapa beragamnya kondisi curah hujan pada waktu dan tempat yang berbeda. Padahal lokasi mereka berdekatan satu sama lain. Alat pengukur hujan sederhana (omplong, Indramayu atau centong, Lombok Timur), secara bertahap menjadi teknologi utama untuk memungkinkan pengamat curah hujan untuk mengukur curah hujan secara harian. Tanpa alat pengukur hujan itu, para petani tidak akan tahu berapa banyak hujan yang turun di lahan mereka.

Pengukuran dan Pencatatan Data Curah Hujan Harian

Petani mengukur dan mencatat data curah hujan setiap pagi di lahannya masing-masing. Mereka juga mengamati dan mencatat keadaan lahan dan kondisi tanamannya.

Pengukuran dan Pencatatan Data Curah Hujan Harian

Data curah hujan diukur setiap pagi antara pukul 6.30 – pukul 7.30. Kesepakatan waktu tersebut dipilih dengan pertimbangan keseragaman waktu pengamatan, sehingga data antar petani dapat diperbandingkan.

Pendokumentasian Data Curah Hujan Secara Sistematis

Data curah hujan harian ditulis di buku kecil yang dibawa setiap hari ke sawah.

Pendokumentasian Data Curah Hujan Secara Sistematis

Data curah hujan harian dicatat dalam buku kecil, lalu kemudian dipindahkan ke dalam buku besar. Ini merupakan menjadi proses edukasi bagaimana menciptakan sarana pendokumentasian data bagi para petani.

Menyiapkan Grafik Curah Hujan Dalam Evaluasi Bulanan

Menyiapkan Grafik Curah Hujan Dalam Evaluasi Bulanan

Menyiapkan Grafik Curah Hujan Dalam Evaluasi Bulanan

Mempresentasikan dan Mendiskusikan Data Curah Hujan

Mempresentasikan dan Mendiskusikan Data Curah Hujan

Mempresentasikan dan Mendiskusikan Data Curah Hujan

Contoh Grafik Curah Hujan Bulanan Manual

Grafik Curah Hujan Bulanan Manual

Grafik Curah Hujan Bulanan Manual

Lorem ipsum dolor sit amet, usu vocibus instructior cu. Eum soleat labores legimus no, has rebum assueverit et, aeterno fabulas antiopam est an. Dicant fabulas an qui. Mundi elitr sapientem an eum, est nisl constituam cu. Eum doctus accusam te, mel id graeci deseruisse.

Grafik Curah Hujan Bulanan

Data curah hujan harian dan data agroekosistem hasil pengamatan dicatat setiap hari di buku kecil, lalu kemudian dipindahkan ke buku besar. Data-data itulah yang menjadi bahan bagi petani ketika melakukan presentasi dan diskusi bulanan dengan akademisi dan petani lain yang hadir dalam evaluasi bulanan.

Setiap petani yang datang ke acara tersebut menggambar grafik hujan bulanan sederhana yang dapat memperlihatkan pola hari hujan dan hari basah dalam satu bulan di lokasi penelitiannya. Grafik tersebut yang dipadukan dengan data agro ekosistem dan informasi skenario musiman kemudian dijadikan salah satu rujukan dalam menentukan strategi bercocok tanam yang tepat dengan mempertimbangkan berbagai kondisi iklim dan agroekosistem seperti datangnya hujan, ketersediaan air, ketersediaan varietas, antisipasi kemungkinan terjadinya serangan hama, ketersediaan tenaga kerja, dan faktor-faktor lainnya.

Grafik Perbandingan Curah Hujan Kab Sumedang September – November 2018

Kegiatan pengukuran curah hujan telah dilakukan oleh petani anggota APCH Sumedang sejak tanggal 4 September 2018. Meskipun petani baru mengukur curah hujan selama 3 bulan, namun data-data itu sudah dapat diolah untuk memperlihatkan keragaman curah hujan di wilayah Sumedang yang cukup beragam. Grafik berikut memperlihatkan data curah hujan yang dikumpulkan oleh petani Anggota APCH dari 24 stasiun pengamatan (5 wilayah Kabupaten Sumedang). Periode pergantian musim ke musim penghujan adalah saat yang penting untuk pengamatan, untuk mengetahui apakah musim hujan sudah benar-benar datang.

Pun menarik diamati, bahwa data-data yang dikumpulkan petani dan juga hasil pengamatan dari tanda-tanda alam terhadap kondisi tanaman tertentu, perilaku binatang dan ketersediaan mata air ternyata menunjukkan kondisi curah hujan yang masih dalam kondisi rendah, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Memang tidak ada data pembanding, bagaimanapun petani di Sumedang baru mengukur curah hujan selama 3 bulan.

Belum dapat disimpulkan apakah kondisi curah hujan dalam kondisi normal, di bawah normal atau di atas normal. Namun dari pengamatan terhadap beberapa unsur alam dan kondisi lahan tadah hujan yang masih kekurangan air, nampaknya kondisi tersebut sesuai dengan kondisi iklim global yang semakin mengarah pada kondisi El Nino seperti yang disebutkan dalam skenario musiman.