Pembelajaran agrometeorologi pada Warung Ilmiah Lapangan (WIL) bertujuan untuk mendorong petani agar tanggap terhadap perubahan iklim yang terjadi. Meski demikian, perubahan iklim yang dianggap meningkatkan kerentanan bagi petani ternyata beragam definisinya, karena “rentan” memiliki konsepsi yang berbeda-beda pada petani. Pengambilan keputusan dalam rangka kegiatan penanaman juga beragam karena didasarkan pada perbedaan pemahaman tadi. Ini sesuai dengan konsep rational choice karena perlu untuk melihat dan cara petani merespons pembelajaran yang mereka dapatkan. Persepsi petani dalam mengantisipasi perubahan iklim tentu beragam, terutama setelah mendapatkan pembelajaran WIL. Kemudian strategi dalam menghadapi kerentanan dan keuntungan serta kerugian yang didapatkan masih berada dalam konteks Revolusi Hijau di mana intensifikasi pertanian dan pestisida direproduksi pemahamannya oleh petani seiring perubahan iklim yang terjadi.

Petani memastikan dan membentuk kepercayaan lewat bukti yang mereka dapatkan, dalam hal ini terutama pada musim panen. Pembelajaran secara individu menjadi pembelajaran secara sosial karena berada pada arena sosial di mana petani melihat hasil dan bukti dari petani lainnya. Dengan adanya ilmu baru dari ilmuwan, pembelajaran agrometeorologi mempengaruhi pengambilan keputusan dan pertimbangan risiko petani. Keragaman ekosistem berpengaruh pada variasi petani dalam memersepsikan kerentanan. Contoh pada pengairan, kondisi tanah, dan intensitas curah hujan yang beragam. Kerentanan yang tidak diduga meningkat seiring perubahan iklim yang terjadi.

Melalui pembelajaran pada Warung Ilmiah Lapangan, petani memersepsikan kembali kerentanan yang mereka hadapi. Strategi dalam arena ekosistem dan perubahan iklim menjadi dampak dari pembelajaran yang didapatkan. Risiko kerentanan yang meningkat membuat petani kesulitan untuk mengonsepkan kerentanan yang terjadi. Kondisi musim yang tidak menentu dan ekosistem telah menjadi momok tersendiri bagi petani. Karena itulah jaringan bagi petani anggota Klub Pengukur Curah Hujan Indramayu (KPCHI) menjadi penting, terutama sebagai strategi menghadapi musim rendheng. Lewat pengukuran curah hujan yang menjadi hasil pembelajaran, menentukan strategi dan tindakan petani menghadapi masa tanam selanjutnya. Contoh dengan meningkatkan variasi tanaman yang akan ditanam dan kemungkinan datangnya hama. Ini menolong petani memersepsikan kembali kerentanan yang mereka hadapi. (Sean Setio Haliman)

Sumber: Skripsi Muki Trenggono Wicaksono